Senin, 14 September 2015

Jasa Penerjemah



Ini merupakan lanjutan Dari definisi sebelumnya di JasaPenerjemah, definisi itu dapat diketahui bahwa Brislin memberi batasan yang luas pada istilah penerjemahan. Bagi Brislin penerjemah adalah pengalihan buah pikiran atau gagasan dari satu Bahasa ke Bahasa yang lain. Kedua Bahasa ini bisa serumpun, seperti Bahasa Sunda dan Jawa, bisa dari lain rumpun, seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, atau bahkan Bahasa yang sama tetapi pakai pada kurun waktu yang berbeda, misalnya Bahasa Jawa zaman Majapahit dengan Bahasa Jawa jaman sekarang. Hanya sayangnaya dalam definisi ini tidak tersirat proses penerjemahan dan kriteria terjemahan yang baik.
             Sejenis dengan definisi ini adalah definisi Pinchuck (1977: 38). Dia menuliskan,
“Transalation is a process of finding a TL equivalent for an SL utterance”. Dalam Bahasa Indonesia bisa dikatakan bahwa, “Penerjemahan adalah proses penemuan padanan ujaran Bahasa sumber di dalam sasaran.”
Dalam definisi-definsi yang muncul dalam kurun waktu dari tahun 1960-1970 an di atas dapat dilihat adanya tiga kesamaan atau kemiripan. Untuk kemiripan pertama adalah adanya perubahan dari Bahasa satu ke Bahasa yang lainnya. Yang kedua adalah adanya makna atau pesan yang dipertahankan, dan untuk yang ketiga adalah adanya kewajiban dari penerjemah untuk mengusahakan padanan di dalam Bahasa sasaran hingga sedekat mungkin, itulah tugas dari penerjemah di Jasapenerjemah.
Di antara ketiga hal diatas, konsep tentang padanan bahasalah yang menarik untuk di cermati karena setiap penulis diatas mempunyai konsep atau lingkup yang berbeda. Catford, hanya meneyebutkan beberapa misalnya equivalent textual material. Tambahnya lagi, dia tidak menyebutkan kata makna atau pesan dalam definisinya. Berbeda dengan Jasa penerjemah yang menambahkan textual material. Jadi, yang harus padan menurut Catford adalah materi tekstualnya. Ini bisa jadi kosakatanya, strukturnya (gayanya), dan juga maknanya karena tidak mungkin penerjemahan dapat mengabaikan maknanya demi padanan struktur Bahasanya saja.
Catford lebih jauh menyatakan bahwa masalah utama dalam penerjemahan adalah bagaimana menemukan padanan terjemahan di dalam BSa. Sementara itu tugas utama teori penerjemahan adalah memberi batasan akan hakikat dan syarat-syarat padanan terjemahan jika teks-teks atau butir-butir itu bisa saling tukar dalam situasi yang sama. Setiap Jasa penerjemah haruslah mempunyai teori-teori dasar dalam terjemahannya. Jadi, idealanya padanan terjemahaan haruslah berkorespondensi satu-satu: jika ada “X” di BSu, maka “Y” ada di dalam BSa, jika “Y” ada di dalam BSa, maka “Z” pun ada di dalam BSu.

Sementara itu, Savory menyebutkan bahwa yang seharusnya padan adalah buah pikiran atau isi gagasannya. Yang sangat jelas membahas maslah ini adalah Nida dan Taber yang menyebutkan  bahwa closest natural equivalent of the SL message. Jadi menururt kedua ahli tafsir itu, yang harus padan terlebih dahulu adalah pesan dari naskah yang di terjemahkan, dan padannyanpun harus yang alami dan semirip mungkin sehingga bisa membawa pesan yang sama. Untuk memahami masalah ini, lebih baik kiranya kita mengingat kembali contoh yang di ajukan Nida dan Taber. Untuk kelanjutannya akan di bahas di Jasa Penerjemah berikutnya, silahkan klik yang sudah kami beri link